Dhiya terlihat cekatan melayani para pembeli yang sudah tidak sabar ingin mencicipi ketupat sayur yang kuahnya sangat menggoda selera. Situasi yang berbeda dapat kita lihat pada stand minuman. Adit sibuk menghitung uang kembalian dan dengan sabarnya seorang bapak menunggu uang kembaliannya. Sedangkan Felli, Ita dan Aulia menyerbu saya yang baru saja beristirahat dari keliling-keliling menjeprat-jepret seluruh kegiatan untuk bahan dokumentasi.
“Miss.. beli frame foto buatan kita dong…” dengan suara manjanya mereka membujuk saya untuk membeli barang produksi mereka. “Untuk guru diskon ya?”, Saya mulai menawar. (Biasalah…..namanya ibu-ibu paling senang nawar. kayanya gak afdhol deh kalau belanja gak pake nawar “Gak bisa Miss… ” Jawab mereka serempak. “Waah… koq ngga bisa? namanya juga pasar, kan harus ada tawar-menawar….”, Kata saya lagi. Setelah tidak berhasil membujuk mereka untuk kasih diskon ke saya, akhirnya saya mengalah juga dengan harga yang mereka tawarkan. Mereka kembali mempromosikan barang dagangannya ke semua orang, setelah urusan transaksi dengan saya selesai.
Pemandangan di atas hanya dapat kita saksikan pada tanggal 2 Mei 2009 yang lalu. Lapangan bola An-Nisaa’ dalam sekejap telah berubah menjadi pasar kaget. Dengan hanya menggunakan terpal, justru jadi menambah kesan , tempat ini pasar beneran. Namun menurut saya, pasar yang satu ini lebih spesial dari pasar-pasar lainnya. Selain berjual-beli, semua orang yang datang bisa bersenam ria dan ikutan games interaktif antara anak dengan orang tua. Barang yang dijual pun harganya sangat murah dan terjangkau, pokoknya murah meriah deh. Paling mahal hanya dipatok 5.000 rupiah saja. Saking murahnya, berbondong-bondonglah orangtua murid y dan menyerbu..

"Ayo, beli... beli..." Teriak Rizki
Yang uniknya lagi adalah penjualnya. Mengapa? ternyata para penjualnya bukan orang dewasa, tapi anak-anak SD kelas 4. Hari ini, anak-anak menjadi pedagang dan pelayan demi mendapatkan salary atau penghasilan. Eitts!! Jangan langsung melapor ke KPA (Komnas Perlindungan Anak) dulu dong. Dengan mempekerjakan anak-anak, bukan berarti kita telah mengeksploitasi anak-anak di bawah umur loh. Ini pembelajaran buat mereka, karena masih berhubungan dengan materi Pasar pada pelajaran IPS. Sebagai guru dan orang tua, kita hanya memfasilitasi anak untuk menjadi seorang entrepreneur sejak kecil. Dengan anak-anak bekerja dan berbisnis, mudah-mudahan anak-anak jadi tahu. Ternyata, susah loh mendapatkan uang. Mereka harus cape dan bekerja dengan giat dulu, baru dapat gajian. Nah….. dengan tahu susahnya cari uang, Kami berharap anak-anak jadi lebih menghargai uang dan tidak menjadi anak yang konsumtif. Itulah harapan kita-kita sebagai seorang guru
“Ssst…. “ Menurut pengamatan saya. Ternyata, banyak juga loh orangtua murid yang memborong hasil karya yang dibuat anak-anak. Bicara tentang hasil karya anak. Selain menjual makanan dan minuman, ada stand khusus untuk menjual hasil karya anak. Kalau dilihat-lihat sih… produk dari anak-anak An-Nisaa’ tidak kalah bagusnya dengan barang-barang yang dijual di Gramedia atau di Home Industry lainnya. Di stand hasil karya anak, kita dapat menemukan berbagai kreasi yang menarik dan tentunya ada nilai jualnya. Anak-anak membuat celengan, pensil yang dihias, frame foto, tempat pensil, dan ada juga kotak serba guna. Selain barang-barang yang sudah disebutkan tadi, ada kreasi clay yang dibuat jadi pin, magnet kulkas atau hiasan bando/jepit. Bahkan ada juga yang punya ide kreatif , menggambar tokoh-tokoh kartun untuk cover CD film. Wow.. its Wonderfull!!!! Thats good idea.

Komentar Terakhir